Perkembangan TIK dari Masa ke Masa: Perspektif Islam

Alih-alih memakai istilah "prasejarah", teks ini meninjau sejarah TIK lewat jalur di luar normal, perspektif Islam .

https://pixabay.com/photos/typewriter-write-old-vintage-8622984/

Pendahuluan

Buka buku pelajaran TIK mana saja, hampir pasti kamu akan menemukan bab pertama yang dimulai dengan kalimat seperti ini:

"Perkembangan TIK dimulai dari zaman prasejarah, ketika manusia purba berkomunikasi dengan bahasa isyarat dan lukisan gua..."

Kerangka seperti ini sudah sangat umum. Diajarkan di sekolah, dikutip di berbagai artikel, dan dianggap sebagai sejarah yang baku.

Namun, di blog ini kita tidak akan menggunakan kerangka itu. Dan kita perlu menjelaskan mengapa.


Catatan Kritis: Mengapa Kita Tidak Menggunakan Istilah "Zaman Prasejarah"

Istilah "prasejarah" dalam ilmu akademik Barat merujuk pada masa sebelum tulisan ditemukan, dan secara tersirat menggambarkan manusia pada masa itu sebagai makhluk primitif yang belum memiliki peradaban, komunikasi yang terstruktur, maupun ilmu pengetahuan.

Dari sudut pandang Islam, narasi ini bermasalah secara fundamental.

Pertama, Islam menegaskan bahwa manusia pertama, Nabi Adam 'alaihissalam, adalah makhluk yang diciptakan Allah dalam keadaan sempurna dan langsung dibekali ilmu. Ini bukan asumsi — ini pernyataan eksplisit dalam Al-Qur'an:

"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, 'Sebutkan kepada-Ku nama-nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!'" (QS. Al-Baqarah: 31)

Ayat ini sangat tegas: Allah mengajarkan kepada Adam AS nama-nama segala sesuatu. Ini bukan manusia yang masih meraba-raba dan mengeluarkan bunyi geraman. Ini adalah manusia yang langsung dibekali ilmu, bahasa, dan kemampuan berpikir oleh Penciptanya.¹

Kedua, setiap nabi yang diutus hadir di tengah kaum yang sudah memiliki peradaban. Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya selama 950 tahun. Nabi Hud diutus kepada kaum 'Ad yang membangun gedung-gedung tinggi. Nabi Saleh kepada kaum Tsamud yang memahat batu sebagai tempat tinggal. Tidak ada satu pun gambaran dalam Al-Qur'an tentang manusia yang masih "primitif" dalam arti tidak berperadaban.

Ketiga, apa yang oleh arkeologi modern disebut sebagai "bukti manusia primitif" — lukisan gua, perkakas batu, dan sebagainya — bisa jadi merupakan peninggalan kaum-kaum terdahulu yang telah runtuh, bukan bukti manusia yang belum berperadaban. Peradaban bisa hancur dan musnah — banjir besar di zaman Nabi Nuh adalah salah satu contoh nyata bagaimana seluruh peradaban bisa terhapus dari muka bumi.

Kesimpulannya: Blog ini memilih untuk tidak menggunakan istilah "prasejarah" sebagai kerangka sejarah TIK, bukan karena mengabaikan temuan arkeologi, melainkan karena menolak interpretasi yang bertentangan dengan akidah Islam. Kita menggunakan Al-Qur'an dan sejarah para nabi sebagai kerangka yang lebih sahih untuk memahami perjalanan ilmu dan teknologi manusia.


Era Nabi Adam 'alaihissalam — Manusia Pertama yang Berilmu

Sejarah TIK dalam perspektif Islam dimulai bukan dari manusia yang belum mengenal kata-kata, melainkan dari manusia yang langsung diajarkan ilmu oleh Allah ta'ala.

Nabi Adam 'alaihissalam adalah manusia pertama sekaligus nabi pertama. Begitu turun ke bumi, beliau sudah memiliki kemampuan berbahasa, berpikir, dan berkomunikasi. Ini adalah fondasi pertama dari seluruh sejarah TIK — bahwa kemampuan mengelola dan menyampaikan informasi dimulai dari fitrah manusia yang Allah berikan, bukan dari proses evolusi bertahap yang memakan jutaan tahun.

Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama segala sesuatu — dan inilah hakikat ilmu pertama yang dimiliki manusia. Bahasa, yang merupakan teknologi komunikasi paling mendasar, sudah ada sejak manusia pertama diciptakan.²


Era Nabi Idris 'alaihissalam — Pelopor Tulisan dan Ilmu Pengetahuan

Jika Nabi Adam 'alaihissalam adalah penerima ilmu pertama, maka Nabi Idris 'alaihissalam adalah pelopor dokumentasi ilmu — orang pertama yang menuliskannya.

Nabi Idris 'alaihissalam adalah nabi ketiga setelah Adam dan Syits, dan merupakan cucu dari Nabi Adam 'alaihissalam. Beliau hidup diperkirakan antara 4533–4188 SM.³

Kontribusi Nabi Idris 'alaihissalam dalam sejarah TIK sangat luar biasa. Menurut Ibnu Ishaq, Nabi Idris adalah orang yang pertama kali menulis dengan pena.⁴ Beliau menggunakan tatah (besi yang ditajamkan) untuk menulis di atas batu atau lempengan logam — yang merupakan generasi pertama dari pena yang kita kenal hari ini.

Tidak hanya itu, Nabi Idris 'alaihissalam juga:

  • Menguasai berbagai bahasa pada zamannya
  • Mempelopori ilmu astronomi dan ilmu falak
  • Menemukan ilmu berhitung (matematika)
  • Menerima 30 shuhuf (lembaran wahyu) dari Allah yang menjadi pedoman ilmu dan dakwah⁵

Ini adalah momen revolusioner dalam sejarah TIK — untuk pertama kalinya, informasi bisa didokumentasikan dan diwariskan secara tertulis kepada generasi berikutnya. Sebelum tulisan ada, ilmu hanya bisa disampaikan dari mulut ke mulut dan rentan hilang. Dengan tulisan, ilmu menjadi abadi.

Menarik pula bahwa peradaban yang ditinggalkan Nabi Idris sangat maju — bangsa Sumeria di Irak kuno (wilayah dakwah beliau) telah mengenal tulisan huruf paku sekitar 4000 SM. Para sejarawan dan arkeolog menemukan bukti peradaban maju di wilayah ini, yang oleh sementara ulama dikaitkan dengan warisan peradaban Nabi Idris.⁶


Era Nabi Nuh 'alaihissalam — Teknologi Rekayasa dan Komunikasi Lintas Bencana

Nabi Nuh 'alaihissalam berdakwah kepada kaumnya selama 950 tahun. Ini bukan sekadar waktu yang sangat panjang — ini menggambarkan betapa dalamnya ilmu komunikasi dan persuasi yang dimiliki beliau.

Namun kontribusi Nabi Nuh 'alaihissalam yang paling monumental dalam sejarah teknologi adalah pembangunan bahtera. Para peneliti menyebut bahwa untuk membangun kapal berukuran panjang 300 hasta, lebar 50 hasta, dan tinggi 30 hasta — yang mampu mengangkut pasangan dari setiap jenis makhluk hidup dan bertahan dalam banjir besar — dibutuhkan penguasaan ilmu fisika, matematika, sains material, dan teknologi perkapalan yang sangat tinggi.⁷

Nabi Nuh 'alaihissalam memiliki ilmu fisika dan matematika yang tinggi, ilmu pelayaran, kemahiran dalam teknologi membuat kapal, serta ilmu sains bahan (kayu dan logam besi).⁸

Lebih jauh, setelah banjir besar, peradaban manusia tersebar ke seluruh penjuru bumi melalui keturunan Nabi Nuh. Ini adalah momen penting dalam sejarah penyebaran ilmu dan teknologi secara global — teknologi perkapalan yang dikuasai Nabi Nuh menjadi fondasi bagi peradaban-peradaban besar yang muncul setelahnya.


Era Nabi Ibrahim 'alaihissalam dan Nabi Ismail 'alaihissalam — Arsitektur dan Komunikasi Antarumat

Nabi Ibrahim 'alaihissalam dikenal sebagai Bapak Para Nabi (Abu Al-Anbiya'). Dari sudut pandang TIK, beliau mewariskan dua hal penting:

Pertama, ilmu astronomi dan kosmologi. Allah memperlihatkan kebesaran-Nya di langit dan bumi kepada Nabi Ibrahim, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-An'am: 75. Ini menjadi fondasi ilmu perbintangan yang kemudian berkembang menjadi navigasi dan sistem penentuan waktu.

Kedua, pembangunan Ka'bah. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail 'alaihissalam membangun Ka'bah (QS. Al-Baqarah: 127) — sebuah struktur yang hingga hari ini menjadi pusat komunikasi dan penyatuan umat Islam seluruh dunia. Ka'bah bukan hanya bangunan ibadah, tapi juga sistem koordinat dan titik rujukan global yang menyatukan ratusan juta manusia dari berbagai penjuru bumi dalam satu arah.


Era Nabi Daud 'alaihissalam — Metalurgi dan Teknologi Material

Nabi Daud 'alaihissalam mendapat karunia yang sangat istimewa dari Allah dalam bidang teknologi material. Allah berfirman:

"Dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Saba': 10-11)

Kemampuan melunakkan besi ini menjadikan Nabi Daud 'alaihissalam sebagai pelopor metalurgi dalam sejarah peradaban. Dari besi inilah lahir berbagai alat dan teknologi yang menjadi fondasi peradaban manusia — mulai dari perkakas pertanian, alat tulis, hingga mesin-mesin industri berabad-abad kemudian.

Disebutkan pula bahwa kompas magnetik yang menunjukkan kutub utara dan selatan dikaitkan dengan kemampuan Nabi Daud dalam mengolah besi.⁹


Era Nabi Sulaiman 'alaihissalam — Komunikasi Lintas Batas dan Teknologi Canggih

Nabi Sulaiman 'alaihissalam adalah contoh paling menakjubkan dari penguasaan "TIK" dalam sejarah kenabian. Beliau mampu:

  • Berkomunikasi dengan hewan — termasuk burung Hud-Hud yang dijadikan "kurir informasi" jarak jauh (QS. An-Naml: 20-28)
  • Membangun sistem intelijen yang luas melalui jaringan makhluk yang beragam
  • Memindahkan informasi dan objek dalam waktu sangat singkat — seperti kisah singgasana Ratu Bilqis yang dipindahkan dalam sekejap mata (QS. An-Naml: 40)
  • Memimpin peradaban yang menguasai teknologi konstruksi, pertambangan, dan perdagangan antarbenua¹⁰

Dari sudut pandang TIK modern, apa yang dikuasai Nabi Sulaiman mencakup konsep-konsep yang baru kita capai di era digital: jaringan informasi yang luas, kecepatan komunikasi, dan sistem komando-kendali yang canggih.


Era Peradaban Islam Klasik — Masa Keemasan Ilmu Pengetahuan

Setelah masa kenabian, estafet ilmu diteruskan oleh para ulama dan ilmuwan Muslim dalam apa yang dikenal sebagai Zaman Keemasan Islam (abad 8–13 M). Ini adalah masa ketika dunia Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia.

Kontribusi ilmuwan Muslim yang langsung relevan dengan TIK modern:

Al-Khawarizmi (780–850 M) — Bapak Aljabar dan pencipta sistem algoritma. Nama "algoritma" sendiri berasal dari latinisasi namanya (Algoritmi). Konsep algoritma adalah fondasi dari seluruh pemrograman komputer modern.¹¹

Al-Jazari (1136–1206 M) — Insinyur Muslim yang menciptakan mesin-mesin otomatis dan robot mekanik jauh sebelum era industri. Karyanya dalam Kitab al-Hiyal adalah cikal bakal rekayasa mesin modern.

Ibnu Al-Haytham (965–1040 M) — Bapak optik modern. Penemuannya tentang cahaya dan lensa menjadi fondasi kamera, fotografi, dan layar digital yang kita gunakan hari ini.


Era Modern (1400 M – Kini) — Teknologi Berkembang Pesat

Dari fondasi peradaban Islam yang kokoh, dunia kemudian mengalami akselerasi teknologi yang luar biasa cepat:

Periode Pencapaian Utama
1450 M Mesin cetak Gutenberg — penyebaran informasi massal
1600-an Teleskop dan kamera — perluasan indera manusia
1837 Telegraf elektrik — komunikasi jarak jauh pertama
1876 Telepon — suara terkirim melalui kabel
1895 Radio — komunikasi nirkabel pertama
1940-an Komputer pertama — mesin pengolah informasi
1969 Internet (ARPANET) — jaringan informasi global
1991 World Wide Web — informasi terbuka untuk semua
2007 Smartphone — seluruh TIK di genggaman tangan
2010-kini AI, Cloud, IoT — era kecerdasan mesin

Pelajaran dari Sejarah TIK dalam Perspektif Islam

Menelusuri sejarah TIK dari kacamata Islam mengajarkan kita hal yang berbeda dari narasi konvensional:

Ilmu bukan milik Barat atau Timur. Ilmu adalah amanah Allah yang dititipkan kepada para nabi, kemudian diwariskan kepada manusia dari generasi ke generasi. Ketika kita menggunakan komputer, kita sebenarnya sedang meneruskan warisan ilmu yang dimulai dari Nabi Adam 'alaihissalam.

Teknologi selalu lahir dari kebutuhan dan wahyu. Setiap lompatan besar dalam sejarah TIK — dari tulisan hingga internet — muncul karena ada kebutuhan mendasar manusia yang ingin terpenuhi. Dan bagi para nabi, ilmu itu datang langsung dari Allah.

Kemajuan teknologi bukan jaminan kemajuan akhlak. Kaum yang memiliki teknologi tinggi pun bisa dihancurkan Allah jika mereka ingkar. Kaum 'Ad yang membangun gedung-gedung tinggi, kaum Tsamud yang memahat batu — mereka semua musnah bukan karena kurang teknologi, tapi karena jauh dari Allah.

Allah ta'ala berfirman:

"Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (ilmu)." (QS. Ar-Rahman: 33)


Kesimpulan

Sejarah TIK dalam perspektif Islam bukanlah kisah manusia purba yang perlahan berevolusi menjadi beradab. Ini adalah kisah manusia yang sejak awal sudah dibekali ilmu oleh Allah, kemudian diajari oleh para nabi, dan terus mengembangkan warisan itu dari generasi ke generasi.

Dari tulisan Nabi Idris, kapal Nabi Nuh, metalurgi Nabi Daud, jaringan informasi Nabi Sulaiman, algoritma Al-Khawarizmi, hingga kecerdasan buatan hari ini — semuanya adalah satu garis panjang yang tidak pernah terputus.

Memahami ini seharusnya membuat kita tidak rendah diri menghadapi teknologi Barat — karena akar ilmu yang menopangnya banyak yang berasal dari peradaban Islam. Dan memahami ini juga mengingatkan kita bahwa teknologi tanpa akhlak akan selalu berakhir pada kehancuran.

Di artikel berikutnya, kita akan melihat lebih dekat bagaimana TIK hadir dalam kehidupan sehari-hari kita hari ini, dan apa tanggung jawab seorang Muslim dalam menggunakannya.


Referensi

¹ Kementerian Agama RI. (t.t.). Tafsir Al-Qur'an Surah Al-Baqarah Ayat 31. Diakses pada 27 Februari 2025, dari https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/2?from=31&to=31

² TafsirAlquran.id. (2020, 17 November). Kisah Nabi Idris: Pelopor Berbagai Ilmu dan Inovasi Umat Manusia. Diakses pada 27 Februari 2025, dari https://tafsiralquran.id/kisah-nabi-idris-pelopor-berbagai-ilmu-dan-inovasi-umat-manusia/

³ Lenterareligi.com. (t.t.). Nabi Idris AS: Sosok Nabi, Ilmuwan, dan Perintis Peradaban. Diakses pada 27 Februari 2025, dari https://lenterareligi.com/mimbar-religi/nabi-idris-as-sosok-nabi-ilmuwan-dan-perintis-peradaban/

⁴ Liputan6.com. (2025, 31 Oktober). Kisah Nabi Idris sebagai Manusia Pertama yang Pandai Menulis. Diakses pada 27 Februari 2025, dari https://www.liputan6.com/islami/read/6199967/kisah-nabi-idris-sebagai-manusia-pertama-yang-pandai-menulis-sosoknya-dibekali-banyak-ilmu-pengetahuan

⁵ Islampos. (t.t.). Nabi Idris: Manusia Pilihan Allah Sang Bapak Ilmu Pengetahuan. Diakses pada 27 Februari 2025, dari https://www.islampos.com/nabi-idris-manusia-pilihan-allah-sang-bapak-ilmu-pengetahuan-161060/

⁶ Inibudi.or.id. (t.t.). Idris — Wiki Berbudi. Diakses pada 27 Februari 2025, dari https://inibudi.or.id/wiki/index.php?title=Idris

⁷ Tanwir.id. (2022, 12 Juli). Kecanggihan Kapal Nabi Nuh dalam Al-Qur'an. Diakses pada 27 Februari 2025, dari https://tanwir.id/kecanggihan-kapal-nabi-nuh-dalam-al-quran/

⁸ istech2017.blogspot.com. (2017, 20 April). Sains & Teknologi Zaman Nabi. Diakses pada 27 Februari 2025, dari http://istech2017.blogspot.com/p/sains-teknologi-zaman-rasulullah.html

⁹ Alif.id. (t.t.). Bahtera Nabi Nuh Pun Bertawaf. Diakses pada 27 Februari 2025, dari https://alif.id/tarikh/bahtera-nabi-nuh-pun-bertawaf

¹⁰ Quantum IDEA. (2023, 21 Oktober). Perkembangan Teknologi di Zaman Para Nabi. Diakses pada 27 Februari 2025, dari https://quantumidea.id/perkembangan-teknologi-di-zaman-para-nabi/

¹¹ Wikipedia. (2025). Al-Khawarizmi. Diakses pada 27 Februari 2025, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Al-Khawarizmi


Creative Commons License
Tulisan ini berada di bawah naungan lisensi (perjanjian pengguna) Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar